Cerita Porno 17 Tahun

Kami Mencari Orgasme (part 1)

Posted on: October 20, 2010

Istriku

Kami telah melalui perkawinan yang sangat bahagia sepanjang lebih dari 25 tahun. Pada usiaku yang ke-55 tahun dan istriku yang ke-47 tahun kami masih sangat bergairah dalam hal hubungan seksual. Dan yang lebih penting lagi adalah kami sangat terbuka dalam soal ini.

Tetapi keterbukaan istriku beberapa hari terakhir ini cukup mengejutkanku. Dengan sedikit terbata dan mengharap aku dapat berlapang dada dan memahami masalah yang ada padanya, dia sampaikan padaku bahwa selama ini dia sulit meraih kepuasan seks secara total dariku.
Dengan terus terang selama perkawinan kami yang lebih fari 25 tahun itu dia baru 2 kali mendapatkan orgasmenya. Yang pertama pada malam pertama, dan yang kedua pada malam kedua. Hal itu dimungkinkan karena pada waktu itu baginya hubungan seks masih merupakan peristiwa luar biasa, yang mampu memberikan sensasi erotik yang luar biasa pula hingga birahinya terpacu. Dan akibatnya saraf-saraf dalam vaginanya menjadi sangat peka rangsangan yang akhirnya mudah sekali tercapainya kepuasan puncaknya yaitu orgasmenya itu.

Pada malam-malam berikutnya istriku mengalami kesulitan. Sensasi semacam itu tak lagi kunjung hadir. Sementara dia merasa bahwa nafsu birahinya tetap menyala-nyala. Keinginan bersebadan denganku tak pernah padam. Tetapi dia merasa bahwa kemaluanku tak lagi bisa memberikan apa yang dia harapkan. Dia bilang vaginanya terlampau sulit dirangsang oleh kontolku. Dia juga nggak tahu, apakah hal itu disebabkan kemaluanku itu kurang besar. Dan itu mestinya tidak. Dia tahu bahwa ukuran kontolku adalah ukuran normal rata-rata orang kita, dia bilang. Panjang 15 cm dengan diameter 3 cm ukuran kontolku itu sudah lebih dari cukup. Tetapi rasanya vaginanya menuntut jauh lebih gede lagi. Dan untuk itu dia telah berusaha untuk mencari jalan keluar. Dia minum jamu (sari rapet), makan lalapan sunda, konsultasi dengan teman-teman dekatnya yang ternyata tidak juga membuahkan hasil.

Sesungguhnya dia sendiri cukup menderita dengan kenyataan yang ada itu. Sementara kerinduan orgasmenya tetap menggebu, khususnya apabila dia mengingat betapa nikmatnya orgasme yang pernah dia raih pada malam pertama dan kedua perkawinannya denganku.

Mendengar itu aku juga keheranan. Jadi apabila selama ini dalam bersebadan denganku dia menampakkan seakan-akan dia orgasme dan puas itu hanyalah berpura-pura agar aku tidak kecewa. Istriku ingin aku tidak mengetahui keadaan sesungguhnya. Karena cintanya yang setulus-tulusnya padaku tidak ingin membuat aku terluka.

Dari sisi lain dengan terus terang dia utarakan bahwa selama ini dia selalu mendambakan kontol lelaki yang gede, kuat dan panjang. Bahkan dia sebutkan mungkin minimal 18 cm panjangnya dengan garis tengah 4 s/d 5 cm (1,5 s/d 2 inchi). Dia bilang selama ini kalau toh dia meraih orgasmenya terutama dikarenakan fantasinya yang telah dia bangun selama bertahun-tahun. Saat aku menyetubuhinya, dia selalu membayangkan kontol segede yang dia sebutkan tadi.

Setiap dia membayangkan kontol seukuran itu, tak ayal lagi sensasi erotisnya langsung menyala-nyala. Dan pada saat seperti itu dialah yang justru mengambil prakarsa untuk mengajakku ke ranjang. Sepanjang fantasinya itu masih bertengger dalam benaknya dia menyambut sepenuhnya dengan bersemangat penetrasi kontolku. Tetapi hal demikian tak selalu bisa dia pertahankan. Bisa saja ditengah-tengah persanggamaan itu begitu saja lenyap. Dan hal demikian itu sering terjadi, khususnya dalam masa 5 tahun terakhir ini, dimana aku sebagai suaminya pun semangat bersanggama telah menurun, mungkin disebabkan usiaku.

Mendengar keterus terangannya tadi, pada awalnya aku memang sulit menerima kenyataan itu. Perasan dan pikiranku jadi kacau. Rasa kecewa, marah dan cemburu berbaur jadi satu. Aku sempat tidak menegornya selama 3 hari. Aku nggak habis pikir, kenapa istriku ini tega merusak apa yang telah dengan sangat baiknya kami bina bersama selama lebih dari 25 tahun ini.

Selama 3 hari aku diam, ternyata istriku tidak menampakkan penyesalannya atas apa yang dia sampaikan padaku. Dia nampaknya tidak bergeming atas apa yang telah dia bicarakan. Mungkin dia telah benar-benar berlaku jujur dan terbuka. Mungkin dia meyakini bahwa keinginan dan dambaannya terhadap lelaki dengan kontol gede yang dia miliki itu adalah dorongan alami, dari jauh di lubuk hatinya yang dia tak mampu menghindarinya walaupun sudah mengusahakannya. Dan apabila tidak terpenuhi akan menjadi penyakit, akan membuat seseorang mudah marah atau emosional dan terganggu kesimbangan mentalnya. Dengan kata lain hal tersebut justru demi kesehatannya, yang berarti kesehatan kami bersama. Dan akhirnya, pelan-pelan aku bisa memahaminya. Bahkan aku juga memutuskan untuk membantunya.

Perubahan sikapku itu terjadi saat aku mencoba melakukan pendekatan analitik, yang secara sederhana menyiratkan bahwa, apabila kamu merasa sakit dan tertekan, carilah kenikmatannya. Dan itu telah kudapatkan. Aku akan berusaha menikmati apa yang akan terjadi. Aku mencoba membayangkan, kalau kontol gede terasa nikmat bagi seseorang yang dicintai, pasti akan terasa nikmat juga bagi diri sendiri. Dan aku sendiri, kuakui bahwa aku juga ada kecenderungan biseks. Diam-diam aku juga tertarik pada sesama jenis. Dan pada usia saya sekarang ini, dimana urusan etika dan pergaulan tidak lagi menjadi begitu rumit dikarenakan kepentinganku dalam pergaulan umum, biarlah, mengalirlah sebagaimana yang seharusnya. Pokoknya, bersenang-senang sajalah.

Saat aku sampaikan sikap dan pandanganku itu padanya, serta merta dia sangat gembira dan berterima kasih atas pengertianku dengan tanpa lupa, sekali lagi dia mohon padaku untuk rela memahami keinginannya dengan lapang dada. ‘Rela ya mas..’, dia membisik,
‘Rela kok, dan aku siap membantumu..’.
Legaa.. Aku lega dan istriku juga lega. Dan aku membayangkan kenikmatan yang juga akan raih. Secara pelan tanganku meraba selangkanganku, kontolku ngaceng.
‘Ma, aku cari koran dulu ya’. Seingatku pernah baca di rubrik iklan koran ibu kota, para pria yang siap membantu wanita atau istri-istri untuk meraih kepuasan di tempat tidur. Bahkan mereka menyebutkan juga ukuran vitalnya, di samping usia, tinggi dan berat badannya.

Kudapatkan. Ternyata rubrik iklan di koran yang aku maksud terpampang banyak sekali pilihan. Hebat ibu kota ini, apapun ada dan tersedia, instant. Aku beli selembar untuk kubawa pulang. Pada istriku kutunjukkan iklan itu. ‘Pilih ma, yang mana, nanti aku urus. Perhatikan ke-amanan, saya suka dengar ada pemerasan atau kekerasan dalam hal-hal begini’.

Setelah membolak-balik iklan tersebut, menimbang sana-sini, ternyata istriku belum juga menjatuhkan pilihan. ‘Aku nggak tahu mas, yang mana. Khususnya yang menyangkut keamanan sebagaimana yang Mas ingatkan tadi’. Akhirnya berdua kami menyimak iklan-iklan itu. Aku baca, ada yang menawarkan anak-anak mahasiswa, harap hubungi HP no 0815xx atau pemuda Arab, 22 cm, penuh bulu, HP no 08126xx. Kemudian yang lain lagi, panti pijat untuk pria dan wanita (suami-istri) menyediakan pemijat pria, ganteng, macho, alat vitalnya basar dan panjang. Datanglah ke Jl. Anu no.xx, Jakarta Barat. Yang lain lagi, panti pijat untuk pria dan wanita, di kawasan Menteng, melayani panggilan 24 jam.. dst.

Memang membingungkan juga. Semuanya informasi yang sangat merangsang libido. Kuperhatikan istriku nampak menahan nafas. Aku bersimpati padanya. Kuraih tangannya dan kubisikkan, ‘Sabar ma.. pasti ada yang cocok. Khan nggak buru-buru, paling cepet khan nanti akhir bulan dengan sedikit uang di tangan’. Iyaa sihh.., demikian kira-kira jawaban istriku atas pikiran yang kulontarkan.

Besoknya ada penjual koran lewat. Kubeli koran ibu kota yang sama selembar. Kubuka kembali ruang iklan rubrik panti pijat. Aku teliti satu-satu. Ah.. akhirnya kudapatkan kemungkinan yang terbaik dalam 2 pilihan. Kusodorkan 2 iklan tersebut ke istriku sesudah kutandai dengan stabilo kuning.
‘Rasanya ini aman deh ma’, aku memberikan referensi. Istriku mengangguk angguk.
‘Lagian nggak deket rumah ya mas. Takut ada tetangga atau teman yang tahu’.
Rupanya pilihan akhirnya sudah dijatuhkan. Kami akan menginap disebuah hotel bintang 2 yang cukup dikenal di Jakarta di daerah Menteng. Disitu terdapat jasa panti pijat untuk pria dan wanita. Istriku bilang kami nginap saja disitu. Ambil 2 kamar dengan connecting door. Nanti Mas lihat dulu panti pijatnya.
‘Mas lah yang pilihkan. Khan..’, dia nggak teruskan omongannya,..
‘Yaa.. aku ngertii..’, aku mendukungnya.

O ya, pembaca, ada yang aneh terjadi pada diriku. Tiba-tiba aku ikut menggebu dalam hal ini. Saat aku membayangkan bagaimana nanti istriku dalam menerima kenikmatannya mendesah, merintih bahkan mungkin berteriak histeris. Aku bayangkan bagaimana dia mengelusi kontol gede lelaki panggilannya itu, kemudian mungkin menciuminya atau bahkan mengulumnya, suatu hal yang tak pernah dia lakukan padaku. Aku menjadi ikut terangsang. Aku bahkan membayangkan terlalu jauh.., bagaimana kalau aku menyaksikan semua itu.. Kontolku jadi ngaceng. Tetapi secepatnya aku tepis. Aku nggak akan mengganggu istriku, kecuali kalau dia minta karena merasa takut atau khawatir. Ahh.. bagaimana nantinya lah.

Sebelum waktunya tiba, aku sempat melakukan survey. Aku mengunjungi tempat itu. Panti pijat itu terletak di basement hotel. Bersih, apik. Koleksi pemijatnya ada pria ada wanita. Gagah-gagah dan cantik-cantik. Pada petugas resepsionisnya aku tanya, mana di antara pemijat prianya yang memiliki “bazooka” yang gede panjang. Dia bilang disini rata-rata memang gede dan panjang pak, karena para langganan maunya yang begitu juga. Bapak pilih saja, yang mana, nanti kami antarkan ke kamar bapak.

Hebat pelayanannya. Kemudian ia menunjukkan album foto,
‘Nih pak, disini ada semua’.
‘Boleh pinjam foto ini?’, tanyaku. Kalau bapak nginap disini boleh, nanti saya antar.
Istriku berbunga-bunga saat informasi tersebut aku sampaikan padanya. Kemudian kami menentukan hari dan tanggalnya. Selanjutnya aku yang mengatur.

Sesuai rencana, kami mengambil 2 kamar yang berhubungan. Sengaja kami ambil hari Senin dengan perhitungan hari kerja dimana semua orang sibuk dan tidak sempat memperhatikan urusan orang lain. Kami datang check in pada pukul 15.00 untuk 1 malam.

Dari telepon kamar, kami menghubungi panti pijat di basement, minta dipinjamkan foto album para pemijat pria. Tidak lebih dari 5 menit, album foto itu telah diantarkan. Aku dan istriku melihat-lihat foto-foto yang terpampang. Ada sekitar 20 pria muda (antara 18 s/d 30 tahun) yang nampak ganteng dan macho. Ada yang pakai T-shirt ketat hingga otot bisepnya menonjol, bahkan juga ada yang bertelanjang dada.

Dari catatan di bawah foto-foto itu disebutkan identitas mereka ada China, Jawa, Ambon, Batak bahkan ada juga Arab. Disini wajah istriku nampak nanar. Aku yakin saat ini jantung istriku sedang berdegup keras. Sekali lagi aku ingin memberikan padanya keleluasaan sepenuhnya. Tanpa rasa ewuh pekewuh, malu atau sungkan hingga dia benar-benar bisa mendapatkan apa yang dia dambakan. Dengan alasan aku mau cari rokok, kutinggalkan dia sendirian dengan foto-foto itu. Aku turun ke lobby dan sengaja ber-lama-lama di sana. Aku mampir di coffee shop minta capucchino. Aku yakin apabila istriku sudah menjatuhkan pilihannya, pasti dia akan menelepon HP-ku.

*****

Jam 17.00 di lobby hotel PP

Di Lobbi Hottel

Ternyata sesudah lebih dari 1 jam istriku belum juga menghubungiku. Aku kasihan padanya, mungkin dia sedang menghadapi berbagai macam perasaan dan pikiran. Mungkin dia ragu-ragu atau apa. Biarlah aku kembali naik ke kamar saja. Sesudah membayar minuman aku beranjak menuju tangga untuk naik ke kamar. Ternyata HP-ku memanggil.. Istriku. Dia bilang lama karena mandi-mandi dulu. Gerah, katanya.

Dia sudah memilih, no. 16, Astro namanya. Nggak salah lagi, itu pasti si Ambon. Sepintas aku tadi mengamati fotonya. Telanjang dada dengan bulu-bulu yang tipis di dadanya itu. Rambutnya lurus jatuh. Kulitnya coklat kehitaman. Alisnya tebal dan bibirnya juga tebal. Memang nampak paling macho dan seksi sekali. Ooo, jadi macam demikian selera istriku, aku jadi tahu.. Tentu saja aku nggak mungkin menyaingi si Astro ini. Aku nggak memiliki semuanya milik Astro sebagaimana yang didambakan istriku itu.

‘OK, ma, biar aku jemput saja sekalian, mama tunggu yaahh..’.
Wah rupanya sesudah memilih-milih tadi dia kemudian mandi-mandi. Semacam mempersiapkan diri, begitulah. Pantas lama sekali. Kemudian aku berbalik ke arah tangga turun, menuju panti pijat di basement. Di panti pijat, sesudah aku melakukan check and recheck (kaya paswalpres saja, he.. he..) aku tunggu si Astro yang sedang menyiapkan alat-alat massage (mungkin itu hanya formalitas).

Saat dia keluar, aku tertegun. Anak ini woo.. ada kali 175 cm, gantengnyaa.. Dengan kulit coklat kehitaman dia juga menjadi sangat macho, jantan, mengingatkanku pada penyanyi Andre Hehanusa. Aku yakin istriku bergetar saat menemuinya nanti.

Di koridor, sebelum masuk ke kamar aku menyampaikan beberapa pesan padanya. Aku bilang bahwa istriku ingin mendapatkan pelayanan darinya. Orangnya sangat lembut, tolong kamu layani dengan halus. Dia juga pemalu, oleh karenanya kamu harus banyak mendorong, banyak mengambil inisiatip. Intinya dia ingin mendapatkan kepuasan seks dengan kamu. Dia mungkin cukup tua, 47 tahun. Apakah kamu bisa menghadapi wanita seusia itu. Maksudku kamu bisa tertarik untuk melakukan hubungan intim dengannya?

Aku lebih baik terus terang dengan Astro ini sebelum dia ketemu istriku. Ternyata hal yang saya sampaikan barusan bukan hal yang baru baginya.
‘Jangan khawatir oom, percaya saja sama saya. Saya biasa melayani tante-tante. Mereka itu bermacam-macam. Ada yang diam, ada yang cerewet, ada yang.., Ah pokoknya macam-macam’.
Aku jadi sedikit lega atas jawaban Astro.

Sejak istriku membuka pintu dan langsung melihat Astro, aku perhatikan wajahnya. Nampak langsung memerah dan gugup. Dia bahkan nggak mau terlampau langsung memandanginya. Kusenggol si Astro yang langsung tahu,
‘Selamat sore tante.., kenalkan saya Astro..’, mengulurkan tangannya.
Nampaknya istriku ragu. Dia tidak langsung menjabat tangan Astro. Nampak serba salah, kaku. Atau malu. Atau sungkan padaku.
‘Ma, ayoo.., dia khan ramah.. Baru kemudian dia menyambut uluran tangan itu. Bahkan suaranya juga keluar,
‘Mari masuk..’, ajaknya.

Kupersilahkan Astro duduk di kursi yang tersedia. Aku senggol istriku, dengan bicara pelan aku bilang,
‘Astro ini sabar orangnya ma, jangan khawatir. Lagian khan nggak buru-buru, ya khan Astro?’, ucapan yang terakhir ini aku sampaikan untuk Astro.
‘Ya oom. Saya santai koq. Tante santai juga khan?’.

Aku pura-pura mau kencing ke kamar kecil, untuk memberikan kesempatan mereka hanya berdua. Terutama untuk istriku yang baginya merupakan pengalaman pertama bersentuhan dengan lelaki lain yang bukan suaminya. Dia pasti senewen. Limbung. Pasti jantungnya berdegup dengan kencang. Mudah-mudahan dia bisa menguasai dirinya.

Saat aku balik, kulihat istriku sudah lebih relaks, dia sedang menyuguhkan minuman. Kuperhatikan pakaian yang dipakainya. Sore ini rupanya istriku benar-benar berdandan. Maksudku dia menggunakan pakaian-pakaian yang selama ini selalu saya komentari, seksi, kamu sangat ayu dengan baju ini, kamu kelihatan muda saja, ma, aku ngaceng melihat kamu lho, dan sebagainya dan sebagainya. Jelas dia menyiapkan dirinya buat Astro ini.

Aku pikir lebih baik meninggalkan mereka berdua.
‘Ma, aku masih ada urusan di bawah ya, n’tar kalau ada apa-apa ke HP saja. Astro, titip tante yaa..’.
Astro menjawab, ya oom, tetapi istriku masih terbengong, canggung atau ragu, matanya melihat bertanya kepadaku, terus bagaimana ini? Aku mendekat.
‘Khan Astro tadi udah bilang agar mama santai saja. OK??’.
‘Mama nggak usah pikirin lainnya. Pokoknya semua sudah aku urus. Mama pijat saja dengan tenang, nggak was-was, nggak khawatir. Lagian sebentar khan aku sudah balik ke kamar sebelah’, aku membesarkan hatinya sambil aku menunjukkan jempolku yang mengisyaratkan, ‘Semuanya beres’.
Rupanya jempolku ini langsung mengubah wajah ragu istriku berubah menjadi mantap, hal itu dia tandai dengan senyuman lebarnya. Aku juga senang dan nggak lagi khawatir. Maklum kami berdua sama sekali nggak pernah melakukan hal semacam ini.

Sebelum aku meninggalkan ruangan, aku menaruh tas cangkingan tipis, yang memang biasa saya bawa kesana dan kemari. Dengan kutaruhnya tas itu semakin membuat istriku tidak ragu bahwa aku akan selalu dekat dia. Tetapi kali ini dalam tas itu aku taruh tape recorder kecil Sony yang peka. Omongan atau bunyi sejauh 20 meter masih bisa terekam. Hal ini memang sudah saya persiapkan jauh sebelumnya.

Dengan rekaman itu nanti, aku akan bisa mendengarkan apa yang akan berlangsung selama 180 menit ke depan, klik recordingnya telah aku hidupkan. Kemudian aku langsung keluar, ‘Bye, bye’, kuraih pintu dan kututup hingga terdengar “klek”, sebagai tanda pintu sudah mengunci secara otomatis.

Kemudian aku bergegas turun, kembali ke coffee shop. Kali ini aku minta sebotol besar bir. Aku sendiri ternyata butuh menyelaraskan hatiku, dan rasa gundah gulana yang sekaligus diiringi oleh perasaan campur aduk membayangkan istriku digeluti lelaki lain langsung di bawah sepengetahuanku. Aku sendiri dan dorongan birahiku yang justru ikut menyeruak keluar sebagai bentuk penyimpangan naluri seksualku.

Penyimpangan? Ya, karena menurut umumnya yang sering kita dengar, bukan demikian reaksi seorang suami yang istrinya akan dientot orang lain. Aahh.. cobalah cari nalar yang lebih rasional. Lihat di luar negeri ini hal macam itu sudah sering kita sama-sama tahu. Bahkan tukar kunci, kunci rumahnya berikut isinya (yang dimaksud tentu istrinya) ditukar kunci rumah kawannya berikut istrinya pula. Nilai-nilai moral tidak semata-mata terletak pada kesetiaan satu lubang, demikian falsafah mereka. Justru leluasanya memberikan atau menggunakan lubang milik sesama teman akan membuat kemesraan suami istri lebih berkualitas, kilah mereka. Sudahkan aku dan istriku juga menganut paham itu?? Ataukah sekedar mencari pembenaran??

Tapi yang jelas, kontolku jadi benar-benar ngaceng. Sambil minum, setiap kali kuraba bagian depan celanaku. Terkadang sedikit kutekan. Membayangkan peristiwa di kamar, sepertinya aku sedang memasuki petualangan romantis yang penuh ketegangan, dimana targetnya adalah aku harus menerima kekalahan sebagai kenyataan. Sebagai wujud usaha meningkatkan kualitas kenikmatan nafsu birahi tinggi, yang berarti juga kualitas kehidupanku. Merasakan kekalahan, kehinaan, direndahkan dan dianggap tidak memiliki kemampuan diubah menjadi kemenangan dan kelapangan dada.

Menuju kualitas puncak kenikmatan birahi itulah yang membuatku disini sekarang dan menenggak bir ini. Ada bagian-bagian dari relung-relung hidup ini yang akan kutinggalkan. Aku akan memasuki dunia baru. Era baru. Dunia yang kunikmati dengan penuh birahi saat mengetahui bahkan membantu lancarnya kehendak istri untuk merasakan entotan lelaki lain yang memiliki kontol yang lebih gede, lebih panjang dan lebih kuat dibanding milikku.

Untuk mengisi waktuku, aku mencoba mengambil stik bilyar. Aku ajak pelayan bilyar menemaniku. Ternyata aku hanya bertahan 1 game. Pikiranku tidak bisa lepas pada apa yang saat ini terjadi di kamar. Aku bayangkan saat ini istriku sudah setengah telanjang. Sedang berpagutan dengan Astro, sementara tangan kanan Astro berada di sela-sela cawat istriku, jari-jarinya sedang melumati gundukan menggunung kemaluan istriku. Pasti ada suaran erangan atau desahan yang keluar dari mulut istriku. Mudah-mudahan tape recorderku tidak mogok.

Aku kembali ke meja bar di coffee shop, kembali minum birku. Aku lihat jam. Baru 18 menit. Rasanya lama sekali. Aku mencoba mengobrol dengan bartender, bertanya tentang minuman, tentang merek wisky, tentang jam buka-tutup bar, tentang tamu-tamu, dlsb.

Kembali aku melihat jam. Mereka telah melewati 50 menit. Uuhh.., mungkin pertempuran mereka lagi seru-serunya. Pasti istriku sudah awut-awutan. Aku bayangkan tubuhnya yang penuh keringat. Juga tubuh Astro. Aku bayangkan bagaimana istriku menerima kontol itu. Akankah dia ciumi? Jilati? Kulum? Akankah Astro juga menyemprotkan spermanya ke mulut istriku? Dan istriku dengan penuh nafsu meminumnya?

Bagaimana gelinjang istriku saat kontol gede Astro menembusi kewanitaannya? Pasti kenikmatan yang sangat terjadi pada dinding-dinding vaginanya itu. Mungkin saat ini rasa gatal dan nikmat itu sedang menyerang istriku. Pasti dia terus menerus meracau penuh nikmat seperti orang kesetanan. Dia gigiti dada Astro yang gempal berbulu itu. Mungkin bahkan ketiak Astro juga dia gigiti dan jilati. Ohh.. gelinjangnyaa.. Pasti dengan energi yang penuh, pantat istriku diangkat-angkat untuk menjemput kontol gede panjang itu.

Kembali aku mengelusi kontolku. Akankah kutunggu telepon darinya? Atau aku saja yang meneleponnya? Ahh.., sebaiknya aku tunggu saja sambil aku melihat-lihat apa-apa yang ada di lobby ini. Di sana kulihat ada gambar peta Jakarta dan foto-foto yang dipajang. Aku ke sana. Aku lihat lokasi hotel PP di tengah kota Jakarta ditandai dengan titik merah. Aku lihat ke wilayah barat, dimana rumahku berada. Kulihat lokasi bekas kantorku. Kemudian aku sedikit bergeser. Kulihat foto Kepala Dinas sedang menyerahkan piagam penghargaan kepada mungkin pemilik hotel ini. Ada foto orang-orang sedang rapat di ruang pertemuan. Ada foto koki restoran menghadapi meja penuh macam-macam masakan dan Piala.

Semua tadi ternyata tidak bisa sepenuhnya menarik perhatianku. Aku kembali mengingati istriku yang sedang digumuli si Astro. Sudah lebih 1 jam. 85 menit sejak aku meninggalkan kamar tadi. Ini pasti merupakan rekor. Biasanya aku bersanggama dengan istriku paling lama 15 menit, kemudian aku lantas turun dari ranjang, demikian pula istriku, turun langsung cebok atau mandi. Belum pernah lebih dari itu. Lantas ngapain saja selama 85 menit mereka ini?
Akhirnya kudengar jeritan HP-ku. Cepat kuraih dari kantongku. Kulihat nama istriku di layar. Rupanya telah selesai. Kupencet tombol jawaban.
‘Hallo’, demikian otomatis ucapanku,
‘Paa.., dimana ini?’,
‘Aku di lobby, ngopi. Kenapa? Sudah?’.
‘Sudah pak, bapak naik deh, ini Astro mau balik’,
‘Yaa, aku naik’.
Sewaktu menuju ke kamar aku berusaha untuk tenang, tidak menampakkan wajah yang resah, penuh lapang dada dan sebagainya. Aku tidak ingin ada kesan seakan-akan aku cemburu. Seakan-akan apa yang terjadi merupakan hal yang biasa.

Saat aku masuk, kulihat Astro sudah rapi berpakaian, seakan-akan tidak ada yang berubah seperti saat aku meninggalkan kamar ini tadi. Tapi dari mata istriku jelas aku melihat sesuatu. Mata itu, nampak menunjukkan semacam kelelahan yang ditutupi kegembiraan. Ditambah lagi dia melumasnya dengan sunggingan senyum penuh arti. Aku tahu, itu pertanda dia mendapatkan apa yang dia mau. Dia mendapatkan kepuasan. Dia juga sebentar melempar pandang ke Astro.

‘Sudah? Bagaimana? Puas? Astro, bagaimana tante tadi?’,
‘Ya oom, mudah-mudahan tante puas’, ucapannya merendah.
Aku merogoh saku, kuambil 2 lembaran Rp. 100 ribu. Kuserahkan pada Astro,
‘Terimakasih yaa. Kamu tugas sampai jam berapa?’,
‘Saya nginap di sini oom. Telpon saja. Buka 24 jam koq.’, sambil menerima lembaran uang yang aku sodorkan. Kemudian dia minta diri. Ketika aku lihat dia juga membawa album foto yang dipinjamkan, aku tahan.
‘Aku pinjam dulu deh, khan ada serepnya?’,
‘O, boleh oom’.
‘OK, terima kasih yaa’. Dia pergi.

Aku kembali ke istriku. Kudekati dan kupeluki. Aku ciumi lehernya, lengannya yang mulus. Kuelusi pinggulnya. Dan kemudian kudorong ke ranjang. Aku mencium keringat lelaki asing. Pasti keringat Astro. Pasti antara mereka seakan bertukar keringat selama pergumulan..

Karena pergulatan sebelumnya mungkin sangat melelahkan, doronganku yang haluspun membuat dia langsung saja rebah ke kasur. Sekarang giliranku terserang birahi yang disebabkan bayangan mengenai apa yang barusan berlangsung antara istriku dengan Astro. Hal itu membuat kebajikan dan pertimbanganku limbung. Nggak tahu ya, birahiku kok didorong oleh rasa keinginan yang sangat besar untuk menciumi jejak-jejak yang dirambah Astro pada tubuh istriku.

pose sebelum dientot

Aku ingin juga merasakan apa-apa yang ditinggalkan Astro pada tubuh istriku. Keinginan itu demikian kuat hingga ketika istriku menahanku agar menunda gumulanku dengan alasan capai, justru aku semakin bergairah. Aku bisikkan,
‘Mama nggak usah ngapa-ngapain, diam saja, aku hanya pengin menciumi koq, aku nafsu banget nih selama nunggu mama tadi. Ayo ma, sebentar saja’.

Akhirnya istriku membiarkan ulahku. Dia pasrah saja atau mungkin juga kasihan padaku. Aku buka blusnya, kujilati lehernya lantas buah dadanya. Disitu aku mencium aroma ludah. Pasti ludah Astro. Kemudian juga pada ketiaknya. Nampak di sana sini banyak cupang kebiruan pada kulit istriku yang putih. Itu pasti sedotan-sedotan dari bibir Astro. Mungkinkah Astro menjadi demikian bernafsu pada perempuan seusia istriku ini? Atau karena kesadarannya sebagai pelayan panti pijat yang selalu harus memberikan kepuasan pelangganannya tanpa pandang bulu. Tetapi bagaimanapun atau apapun yang terjadi, istriku pasti telah merasakan kepuasan senggama yang hadir sebagai kenyataan baginya.

Ketika kusingkapkan roknya, rupanya dia belum sempat memakai celana dalamnya, dia buru-buru mencegahnya kembali,
‘Jangan!’ serunya.
‘Nggak papa ma, ayolah sebentar saja’, nafsukulah yang ngotot untuk tidak mendengarkan permintaannya, karena hal itu justru mendorong keinginan birahiku.

Wajahku langsung merasuk di antara pahanya. Dan kusaksikan, jembut istriku saling melekat, itu pasti disebabkan sperma lengket Astro yang belum sempat dibersihkan. Artinya sejak selesai bersanggama tadi, istriku belum cebok membersihkan kemaluannya. Dan benar, lebih ke bawah lagi nampak sperma yang meleleh dari bibir vaginanya. Huu.. Aku menahan nafas..
Nafsuku langsung melonjak. Air liurku menetes. Lidahku ingin langsung menjilat. Kumulai dengan jembutnya. Mulutku berusaha menangkap lengketan itu sebanyak-banyaknya. Kemudian dengan penuh ketidak sabaran bibir dan lidahku meluncur ke bawah menyedot-sedot vaginanya. Di lubang kemaluan itu terakumulasi banyak sekali sperma Astro. Lidahku mengoreknya disusul bibirku mengisapnya. Campur dengan cairan birahi istriku, sperma Astro melimpah ruah menumpuk di lubang itu. Seperti makan kelapa yang masih sangat muda. Rasa kental dan gurih langsung memenuhi mulutku. Dan alangkah nikmatnya saat sperma itu mengalir di tenggorokanku. Demikian banyaknya sperma yang kutelan..

Karena apa yang saya dapatkan dan nikmati dari vagina istriku ini, kontolku sangat ingin ngentot. Aku beringsut dan naik menindih istriku. Sekali lagi dia berusaha menolak karena kelelahan. Tetapi libidoku nggak mau menerima. Aku tindih dengan seluruh berat tubuhku, aku ciumi bibirnya. Dan di bawah sana, kontolku yang telah tegang langsung menembus memek istriku. Dan dengan penuh nafsu aku mengayun.

Aku lakukan semua itu tanpa memperhitungkan perasaan istriku. Aku tidak merasa harus membangkitkan birahinya terlebih dahulu. Aku hanya berpikir kepentinganku. Dan dia, istriku benar-benar tidak mau meladeniku. Lumatan bibirku sama sekali tak direspon. Aku sibuk sendiri. Juga ayunan kontolku yang menembus memeknyapun tidak memberikan respon. Pasif dan acuh. Tak bergoyang sedikitpun. Aku maklum, tentu barangku tidak lagi memberikan rasa apa-apa dibanding dengan barang Astro yang beberapa menit yang lalu demikian mempesona merasuki dan menyesaki memeknya.

Pikiran itu justru membuatku semakin bernafsu. Kugenjot semakin cepat kontolku. Dan saat-saat spermaku mau tumpah, dari mulutku meluncur,
‘Ma,..kontol Astro lebih enak ya ma.., kontol Astro lebih gede ya maa.., kontol Astro nikmat ya maa.. Maa..?!’, aku ucapkan kata-kata itu dengan gemetar karena birahiku yang meledak-ledak di ujung spermaku yang mau muncrat.
Aku lihat istriku hanya mengangguk.
‘Kontol Astro mmaa.. eennaakk.., gedee.. Maa..’,
‘Heehh..heehh’, begitu saja yang keluar dari mulutnya.

Spermaku tercecer. Muncrat dalam vagina yang kendor dan tak bersemangat. Dan akhirnya aku merasa sepertinya hanya mengotori sprei hotel saja. Dan aku merasa lelah.. capai sekali.. Kepuasan yang kudapatkan hanyalah kepuasan palsu.. Seperti halnya onani.. palsu. Tidak tuntas.

Sekitar pukul 3 dini hari, istriku membangunkanku. Dia bilang nggak bisa tidur. Minta aku bangun juga dan membuatkan minuman. Di kamar itu tersedia teh dan kopi instant. Aku buatkan teh panas kesukaannya dan kopi untukku dengan air panas di termos yang juga tersedia di situ.

Di pagi buta itu dia nampak sangat cantik dan fresh. Mungkin karena dia telah cukup tidur setelah sore tadi bekerja keras untuk mendapatkan yang selama ini aku tidak bisa memberikannya. Aku tanya secara terus terang,
‘Berapa kali kamu dapat orgasme dengan Astro tadi?’, dia nggak menjawab kecuali melirik matanya kepadaku dengan sedikit senyum saja. Ah mungkin hal-hal macam itu memang tidak perlu dipertanyakan. Tidak pantas. Aku tidak melanjutkan.

Tiba-tiba istriku merangkulku dan ngomong,
‘Mumpung disini mas, aku masih pengin lagi nih. Boleh yaa?! Soalnya kalau besok-besok khan mbayar hotelnya cukup mahal mas’.
Ah, istrikuu.., kamu ketagihan kontol gede to, memang dasar doyan kali. Begitu suara hatiku. Tetapi di lain pihak aku sungguh senang mendengar permintaannya itu. Terdengar permintaan itu sangat erotik. Libidoku langsung bereaksi. Secara pelan kontolku mulai tegak. Tentunya karena aku akan ikut menikmati juga. Sehingga dengan serta merta,

‘Yaa lah, mumpung masih banyak waktu. Yang mana? Mana album foto tadi? Atau mau panggil lagi si Astro?’.

Istriku menyodorkan album yang dipinjamkan panti pijat tadi. Kembali kami buka-buka. Sesudah balik sana balik sini, pilihannya jatuh pada Irfan, anak China. Disitu disebutkan tingginya 175, sama dengan Astro. Irfan yang berkulit kuning itu tampil dengan T-shirt ketat. Rambutnya yang lurus panjang jatuh ke dahinya. Nampak sangat simpatik dalam senyumannya. No. 9. Dan sesudah mantap pertimbangannya, aku bergerak meraih telepon ke panti pijat. Aku minta Irfan bisa diantarkan ke kamar kami. Kemudian kami menunggu.

10 menit kemudian terdengar ketokan halus di pintu. Pasti dia nih. Kubukakan pintu, dan seseorang mengenalkan dirinya. Dialah Irfan. Woo.. Dada bidangnya, bahunya, bokongnya.. Dia benar-benar sangat seksi. Akupun mau kalau disuruh menjilati bokongnya.

Kali ini istriku tidak lagi kaku,
‘Malam Irfan..’, yang langsung dijawabnya,
‘Malam tante..’

Aku kembali lihat istriku. Dengan mataku aku bertanya,
‘OK?’. Dia mengangguk.
Kemudian basa-basinya menawarkan minuman untuk si Irfan ini.
‘Gampang tante, nanti aku ambil sendiri. Jangan ngrepotin’.
Rupanya Irfan sudah tahu banget seluk beluk kamar hotel ini.

Kemudian aku bicara kepada Irfan untuk menyampaikan sebelumnya beberapa pesan sebagaimana pesan-pesan yang kusampaikan kepada Astro tadi sore sebelum menemui istriku. Sikap dan jawabannya sama. Rupanya mereka dikondisikan seragam dalam melayani tamu-tamunya. Aku senang dan lega. Dan kepada istriku sekali lagi aku sampaikan bahwa mereka ini semua santun, sehingga mama nggak perlu canggung dan khawatir.

Sebelum pergi aku raih lebih dahulu tas kecilku, yang aku lupa, pasti sejak tadi tape recordernya muter terus karena aku lupa mematikannya. Aku masuk kamar mandi. Kuambil rekaman pertama kemudian aku pasang tape kosong yang baru dan mengganti baterainya kemudian menekan tombol REC-nya. Pura-pura habis kencing, kutaruh kembali tasku di tempat semula tanpa mengundang curiga istriku maupun Irfan.

‘Mas jangan pergi deh, di kamar sebelah saja. Khan malam ini, nggak ada orang di lobby’.
Dia benar. Dan melalui connecting door yang menghubungkan dua kamar itu aku masuk ke kamar sebelah.
‘Selamat pijat yaa..’, begitu bahasaku sambil tanganku melambai kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

Selamat datang di ceritaporno17tahun.wordpress.com...
Situs yang jelas - jelas mengandung pornografi untuk anak di bawah umur 17+. Situs ini berisi cerita - cerita porno dari ribuan penulis berkualitas yang diposting secara profesional.

Blog Stats

  • 5,117,191 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: