Cerita Porno 17 Tahun

Eci, Tetangga Kontrakanku

Posted on: Oktober 19, 2010

Aku Jaka 30 tahun. Aku tidak akan mengungkap identitas semua orang yang ada dalam ceritaku lebih rinci. Tidak untuk tempat kerja, tempat tinggal atau tempat kejadian secara spesifik. Sebab di sini aku menggunakan nama asli mereka.

Bekerja di LSM membuat teman satu kontrakanku, Eci, tidak banyak punya waktu nganggur di rumah. Kabur jam delapan pagi pulang loyo jam sepuluh malam. Begitu terus setiap hari. Mungkin benar kesibukan kadang membuat orang sulit konsentrasi terhadap hal-hal kecil. Maka jadilah dia seperti pelupa.

Lupa taruh kunci, lupa mengangkat jemuran kutang seharian, lupa menututup dan menyimpan pembersih kewanitaan di kamar mandi pada tempatnya, lupa nyuci celana dalam kotor berhari-hari di tempat baju kotor, ya, hal-hal sepele seperti itulah. Aku sampai berpikir jangan-jangan Eci tidak pernah mencukur rambut di sekitar lobang selangkangannya. Tapi dari semua kelupaan Eci yang paling aku suka adalah kalau dia lupa menutup pintu kamar. Apalagi sehabis mandi, crot…!

Setelah kejadian kemarin di WC, menyaksikan air maniku yang memyembur-nyembur berantakan ke lantai, Eci jadi jarang bertemu mata kalau kami berpapasan di dalam rumah. Entah apa yang kini ada di kepalanya. Bodo’. Itu malah kesempatan baikku untuk selalu mengamati buah dada di balik kaos tipisnya meski sesaat. Pagi itu aku sengaja pergi lambat dan malas-malasan di rumah. Bukannya apa-apa, tapi masih terbayang pemandangan subuh tadi. Bangun tidur sehabis kencing, aku bermaksud mematikan lampu teras. Saklarnya terletak di sebelah pintu kamar Eci. Aku lihat kamarnya menyala dan pintunya terbuka, tumben pikirku. Biasanya kalo urusan molor dia paling jago. Aku tidak berpikir apapun waktu itu karena masih terlalu pagi dan malas. Biasanya kalau melihat apapun milik Eci apalagi barang pribadi atau isi di dalam kamarnya, aku langsung ngaceng. Tapi pagi itu biasa-biasa saja.

Weiz…ternyata itu pagi keberuntunganku. Rupanya Eci lupa menutup pintu sehabis kencing subuh tadi. Dan apa yang aku saksikan ini lumayan menggugah nafsuku yang masih bermalas-malasan. Aku melihat Eci tidur terlentang dengan lutut tertekuk ke atas. Meskipun berjilbab tapi Eci selalu membuka jilbab di rumah dan pakai pakaian yang minim, celana pendek dan kaos oblong tipis apalagi waktu malam hari. Ujung celana pendeknya yang tipis melorot ke pangkal paha sampai rasanya aku bisa melihat celana dalam ketat yang membungkus alat kelaminnya.

Aku berhenti dan memandang sesaat, dua saat, tiga saat,…lama. Celanku langsung menonjol sebab kalau malam aku tak pernah pakai cd biar bebas. Dadanya naik turun berirama, tenang. Mulutnya sedikit terbuka seperti sedang menikmati senggama. Ingin rasanya meracap di sini dan sekarang juga. Tapi takut Eci terbangun, jadi aku urungkan niatku dan langsung mematikan lampu teras, lalu tidur lagi. Terasa ada getaran-getaran lembut di dalam batang penisku. Seperti cairan yang mengalir tersendat-sendat. Sial…! Aku ingin merobek celana Eci dan membenamkan penisku ke alat kelaminnya…!

Sekitar jam 7.30 Eci masuk ke kamar mandi. Tiba-tiba aku ingin mengintipnya. Maka begitu pintu kamar mandi ditutup, aku segera masuk WC yang ada disebelahnya. Nekat aku sudah naik berahi. Kedua ruangan itu hanya dibatasi tembok setinggi 2 meter. Jadi aku punya kesempatan untuk melongok dari atas tembok itu. Jantungku berdegup kencang sebab ini pertama kalinya aku melakukannya.

Aku terlewatkan saat-saat dia membuka kaos tipisnya. Yang aku saksikan hanyalah payudara yang menyembul ketika kutangnya ditarik ke bawah untuk dilepas. Setan, mulus banget! Putingnya coklat kemerahan. Meskipun berkulit sedikit gelap tapi buah dadanya lumayan putih dan mulus dan kencang. Lalu giliran celana dalamnya yang super ketat itu dia lepas. Tapi aku tak bisa melihat dengan jelas vaginanya karena posisiku dari atas dan sedikit ke belakang.

Begitu Eci mulai mengguyurkan air ke tubuhnya, aku mulai meracap. Tidak pakai sabun seperti biasanya. Dia meremas-remas buah dadanya dengan sabun seperti menikmati. Lalu bagian alat kelaminnya yang ia gosok naik turun dengan tangan kirinya. Sementara aku semakin cepat mengocok penisku yang makin muncul urat-urat nadinya. Membuatnya semakin sensitif terhadap setiap sentuhan. Sialan…asik sekali pagi ini!

Dua menit berlalu tapi Eci masih menggosoki kelaminnya naik turun, berulang-ulang. Satu menit…dua menit…tiga…empat…dan makin cepat! Rupanya dia sedang mengocok, masturbasi! Tubuhnya mulai meliuk, menggelinjang dan tersentak-sentak. Tangan kanannya meremasi susu kanannya kuat-kuat. Mengurut-urutnya dengan penuh nafsu seperti ingin sekali mengeluarkan cairannya dengan segera. Tak terdengar lenguhan atau desahan sama sekali dari mulutnya. Pantas saja dia tak pernah ketahuan kalau sedang mengacak-acak kelaminnya. Aku mempercepat kocokan. Sekarang pantat Eci bergetar, tersentak-sentak seperti kena strum. Tubuhnya meliuk dan bergetar hebat. Nampaknya dia akan segera mencapai puncak. Aku pun merasa sudah saatnya untuk menyemprotkan maniku tak peduli ke arah mana.

Tiba-tiba Eci menghentikan gesekan tangan pada selangkangannya. Ia mengambil gayung mandi, dan dengan posisi terbalik Eci memegang gagang gayung dengan tangan kanannya. Sementara bagian penampung air yang sudah ia telungkupkan, ditekankan pada selangkangannya. Dalam posisi mengangkangkan paha kemudian Eci menekan-nekankan gayung itu ke selangkangannya dengan berirama. Kini ia mulai lepas kendali terbukti dari desahan dari bibirnya yang mulai terdengar meskipun sangat pelan.
Eci masih belum menyadari kehadiranku. Kini desahannya semakin keras terdengar seiring dengan genjotan gayung yang ia lesakkan berkali-kali ke selangkangannya dari arah bawah. Dan begitu liuk tubuhnya mengisyaratkan saat itu tiba, mendadak dia mendongak ke atas dan…dia melihatku! Crot…crot…crot…

Spermaku muncrat di tembok, tak peduli. Begitupun aku tak peduli saat Eci melihat aku sedang mengintipnya. Aku hanya ingin menikmati enaknya ejakulasiku ini. Seperti bendungan yang runtuh dan airnya bergulung bebas, lepas dan liar ke segala arah. Benar-banar tak ada yang dapat menyela kenikmatan ini. Rupanya Eci pun tak peduli dengan keberadaanku. Mungkin dia juga sedang menikmati indahnya semburan-semburan dari lobang kelaminnya. Terbukti dari tidak adanya teriakan atau kemarahannya padaku. Dia malah menutup matanya perlahan. Siapa juga yang bisa menahan kenikmatan saat ejakulasi seperti sekarang yang sedang kami berdua alami. Bahkan untuk menahan mata ini agar tidak terpejam saja kami tak sanggup. Aku dan Eci ejakulasi bersama-sama di kamar mandi, di pagi yang aneh.

Mungkin inilah cara Eci melampiaskan nafsunya yang tidak pernah terpuaskan tiap di-get fuck sama suaminya. Apalagi sekarang baru tengah bulan, dimana suaminya hanya datang di akhir bulan saja. Mungkin juga ini salah satu kebiasaan yang sering dia lakukan, meskipun sangat jarang cewek melakukan masturbasi rutin hanya untuk memuaskan kebutuhan seksualnya saja. Tapi kalau benar ternyata Eci punya hobi meracap, wah… berarti suatu hari bisa aku ajak mengocok bersama. Tinggal menunggu tanda-tanda itu saja darinya.

Setelah semua yang ada di buah zakar dikuras habis dan bisa membuka mata lagi, aku turun dari sisi tembok bak penampung air di WC ini. Aku mencuci sisa lendir yang masih menempel di ujung penis dan jariku. Yang di tembok biar saja, toh mirip cat yang terpercik atau tersiram. Aku menonton tivi lagi. Setelah 15 menitan, barulah Eci keluar dari kamar mandi. Seperti kemarin setelah kejadian aneh itu, dia tak berani menatapku saat berpapasan di pintu koridor ke kamar mandi. Dan selalu aku melumat payudaranya dengan tanpa takut tatapanku akan diketahuinya..

Aku masuk ke kamar mandi untuk mandi dan melihat peralatan mandi Eci masih tercecer tidak pada tempatnya. Pembersih kelaminnya tak ditutup, sabun mandinya masih terbuka. Dan aku berahi lagi. Aku ambil sikat gigi Eci dan aku lumuri dengan odol pada pegangannya. Lalu aku masukkan ke dalam lobang pantatku pelan-pelan. Tangan kiriku yang sebelumnya sudah dituangi pembersih kewanitaan Eci langsung menjalankan tugasnya mengocoki batang penisku yang 25 menit lalu baru saja bekerja keras. Enak rasanya ada benda milik seorang wanita masuk ke dalam anus sambil meracap. Aku keluar masukkan batang sikat gigi Eci berulang dan perlahan-lahan. Setiap gesekannya dengan daging di dalam anusku menimbulkan sensasi luar biasa. Efek Mint yang ada pada odol mulai terasa dingin sekaligus semriwing terasa di anus. Ditambah kocokan dan aroma pembersih kelamin milik Eci yang aku pakai sebagai pelicin untuk mengocok, rasanya aku rela menjadi budak kenikmatan ini sepanjang waktu.

Sekititar 10 menit aku belum juga selesai. Sayang rasanya untuk memuntahkannya sekarang. Rupanya Eci sudah selesai berpakaian dan ke belakang lagi untuk menjemur handuk. Aku keraskan kocokanku dengan maksud agar suaranya bisa terdengar dari luar. Setan…asyiknya! Sensasinya tak terbandingkan. Dia mengibas-kibaskan handuknya, lalu menaruh piring kotor di tempat cuci yang berada di dekat pintu kamar mandi. Begitu terdengar Eci mendekat aku semakin tak tahan. Tapi aku ingin kenikmatan yang lebih dan lebih…dan lebih…

Crok..crok..crok..
“Eci…” panggilku.
Crok..crok..crok…
“Ya…?”
Crok..crok..crok…
“Maaf ya, tadi itu.”
Crok..crok..crok…
“Tadi apa…? Oh yang tadi itu… Asal jangan lagi-lagi aja ya, Ka.”
Crok..crok..crok…
“Ngomong-ngomong tadi lagi ngapain, sih?” tanyaku.
Crok..crok..crok…
“Ck… udah lah, jangan gitu dong, kita kan udah sama-sama dewasa. Sama-sama tau lah.”
Crok..crok..crok…
“Tadi itu Eci gituan, ya?”
Crok..crok..crok…
“Udah dong, kan gak perlu dibahas.”
Crok..crok..crok…
“Tapi enak, ya?” Aku mulai mendekati puncak tapi masih bisa aku tahan. Batang sikat gigi makin dalam aku tancap ke anusku. Kocokan dan suaranya makin keras disela-sela obrolan pembangkit berahi kami. Eci tak menjawab pertanyaan konyolku.
Crok..crok..crok…
“Si..? Enak,kan? Tadi Eci masturbasi, ya, tadi? Ngocok, ya?” Lalu…
“…aaah…hhh…” Penisku memaksa memuncratkan mani yang tersisa dalam buah zakar. Kejang-kejang itu sungguh menguras semua energiku. Kini aku onani lagi sambil mengobrol dengan Eci. Meskipun tidak menyembur seperti waktu mengintip tadi, tapi sensasinya tidak kalah hebat. Sebab kali ini lobang anusku diisi dengan batang sikat gigi milik Eci yang sudah aku lumuri odol agar licin.

Tak ada jawaban lagi dari Eci. Sepertinya dia pergi dengan perasaan risih dan sedikit jengkel rahasia gelapnya dicampuri orang lain. Siapa yang menyangka kalau Eci ternyata punya kegemaran masturbasi saat mandi. Hehe…

Ingin rasanya aku mengajak Eci untuk mengocok bareng. Suatu hari pasti akan aku lakukan. Kami berdua di dalam kamarnya, tanpa kutang dan celana dalam. Semua lampu dinyalakan, kipas angin diputar. Sabun mandi, sabun tangan, lotion, vaseline, madu, susu kental manis, semua tersedia untuk melincinkan telapak tangan pada alat kelamin kami. Dan pesta kocokan pun segera dimulai…semua hanya untuk penis ku dan vagina Eci.

1 Response to "Eci, Tetangga Kontrakanku"

lumayan ubar sange

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 95 pengikut lainnya

Selamat datang di ceritaporno17tahun.wordpress.com...
Situs yang jelas - jelas mengandung pornografi untuk anak di bawah umur 17+. Situs ini berisi cerita - cerita porno dari ribuan penulis berkualitas yang diposting secara profesional.

Blog Stats

  • 5,389,447 hits

Recent 100

Top Clicks

  • Tak ada
%d blogger menyukai ini: