Cerita Porno 17 Tahun

Seks Malam Itu Hilangkan Perawanku

Posted on: Februari 1, 2016

Ini cerita sangat berbeda dengan cerita cerita sebelumnya suatu ketika Pada suatu hari si Chinta yang hobinya memang suka dengan film (bioskop) suatu ketika ada acara stasiun tv yang menampilkan film yang benar benar dia suka, di menonton hingga larut malam hingga ketiduran di depan tv, setelah matahari sudah menampakan sinarnya, ternyata Chinta terlambat untuk berangkat sekolah, sehingga dia buru buru agar tidak terlambat disekolah,

Dengan wajah yang sangat cantik, kulit putihnya, dan ukuran payudara 36B, tak heran semua mata laki laki waktu dia berangkat sekolah mata terjuju kepada Chinta, sambil digoda oleh orang-orang disekitarnya, namun sampai hari ini juga Chinta belum mempunyai kekasih, entah alasananya tidak boleh oleh orang tua atau penolakan halus waktu seorang mau menyatakan cinta kepada Chinta.

Berita Sex:Seks Malam Itu Hilangkan Perawanku

“Maaf ya,, kita temenan aja dulu”, begitu alasan apabila seseorang yang mau berpacaran dengan Chinta. Begitulah Chinta, gadis manis yang belum terjamah bebasnya pergaulan metropolis seperti Jakarta tempatnya tinggal.

Chinta mungkin akan cukup lama bertahan dalam keluguannya kalau saja peristiwa itu tidak terjadi. Pagi itu selesai menyiapkan diri untuk berangkat, Chinta sedikit tergesa-gesa menjalankan Honda Supra-nya. Tanpa disadarinya dari kejauhan tiga pasang mata mulai mengintainya.

Blacan (27tahun) mahasiswa salah satu PTS yang pernah ditolak cintanya oleh Chinta, hari itu mengajak dua rekannya (Iwan dan Tejo) yang terkenal bejat untuk memberi pelajaran buat Chinta, karena Blacan yang playboy paling pantang untuk ditolak, apalagi oleh gadis ingusan macam Chinta. Tepat di jalan sempit yang hampir jarang dilewati orang, Blacan dan kawan-kawan memalangkan Toyota Land Cruser-nya, karena mereka tahu persis Chinta akan melewati jalan pintas ini menuju sekolahnya. Sedikit kaget melihat mobil menghadang jalannya, Chinta gugup dan terjatuh dari motornya. Blacan yang berada di dalam mobil beranjak keluar.
 “Hai Mit.., jatuh ya..?

” kata Blacan dengan santainya.

“Apa-apaan sih kamu..? Mau bunuh aku ya..?

” hardik Chinta dengan wajah kesal.

“Nggak.., cuman aku mau kamu jadi pacarku, jangan nolak lagi lho..! Ntar…

” kata Blacan yang belum sempat menyelesaikan kata-katanya.

“Ntar apa..?” potong Chinta yang masih dengan wajah kesal.

“Ntar gue perkosa lo..!”

“Sialan dasar usil, cepetan minggir aku udah telat nih..!

” bentak Chinta. Air mata di pipinya mulai menetes karena Blacan tetap menghalangi jalannya. 

“Blacan please.., minggir dong..!

” pintanya sudah tidak sabaran lagi. Blacan mulai mendekati Chinta yang gemetar tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi bajingan ini. Tiba-tiba dari arah belakang sebuah pukulan telak mendarat di tengkuk Chinta yang membuatnya pingsan seketika. Rupanya Iwan yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon bersama delapan orang lainnya sudah tidak sabar lagi.

“Ayo kita angkut dia..!” perintah Blacan kepada teman-temannya. Singkat cerita, Chinta dibawa ke sebuah rumah kosong di pinggir kota. Letak rumah itu menyendiri, jauh dari rumah-rumah yang lainnya, sehingga apapun yang terjadi di dalamnya tidak akan diketahui siapapun. Sebuah tamparan di pipinya membuat gadis ini mulai siuman.

Dengan tatapan nafsu dari dua lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya kecuali satu orang, yaitu Blacan. Chinta mulai ketakutan memandang sekelilingnya. Apa yang akan terjadi samar-samar mulai terbayang di matanya. Jelas sekali dia akan diperkosa oleh 3 orang. Rupanya mereka sudah tidak sabaran lagi untuk segera memperkosa Chinta.

Tangan-tangan mereka mulai merobek-robek pakaian gadis itu dengan sangat kasar tanpa perduli teriakan ampum maupun tangisan Chinta. Setelah menelanjangi Chinta sehingga Chinta benar-benar bugil. Sekali sentak Iwan menjambak rambut Chinta dan menariknya, sehingga tubuh Chinta yang tekulai di lantai terangkat ke atas dalam posisi berlutut menghadap Iwan.

“An.., lo mau gue apain nih cewek..?

” kata Iwan sambil melirik ke arah Blacan.

 “Terserah deh.., emang gue pikirin..!

” Iwan menatap sebentar ke arah Chinta yang sudah sangat ketakutan, air matanya nampak mengalir dan, “PLAK..!” tamparan Iwan melayang ke pipinya. Blacan dan yang lainnya mulai membuka pakaian masing-masing, sehingga sekejap orang-orang yang berada dalam ruangan itu semuanya telanjang bulat. Chinta yang terduduk di lantai karena dicampakkan Iwan kembali menerima perlakuan serupa dari Blacan yang kembali menjambak rambutnya, hanya saja tidak menariknya ke atas, tetapi ke bawah, sehingga sekarang Chinta dalam posisi telentang.

Teman-teman Blacan memegangi kedua tangan dan kaki Chinta, sedangkan Blacan duduk tepat di atas kedua payudara Chinta. Penis Blacan yang sudah mengeras dengan panjang 18 cm ditempelkan ke bibir Chinta.

“Ayo isep kontol gue..!” bentak Blacan tidak sabaran. Karena Chinta tidak juga membuka mulutnya, Blacan menampar Chinta berkali-kali. Karena tidak tahan, akhirnya mulut mungil Chinta mulai terbuka. Tanpa ampun Blacan yang sudah tidak sabaran memasukkan penisnya sampai habis, tonjolan kepala penis Blacan nampak di tenggorokan Chinta. Blacan mulai memaju-mundurkan penisnya di mulut Chinta selama 5 menit tanpa memberi kesempatan Chinta untuk bernafas.

Chinta kesakitan dan mulai kehabisan nafas, Blacan bukannya kasihan tetapi malah semakin brutal menancapkan penisnya. Selang beberapa saat, Blacan mengeluarkan penisnya dari mulut Chinta, dan segera diganti oleh Penis Iwan yang panjangnya hampir 20 cm. Tejo yang sedari tadi memegang kaki Chinta mulai menjalankan aksinya.

Paha Chinta ditarik ke atas dan mengarahkan penisnya ke vagina Chinta. Penis Tejo yang paling besar di antara kedua rekannya tidak terlalu gampang menembus vagina Chinta yang memang sangat sempit, karena masih perawan.

Tetapi Tejo tidak perduli, penisnya terus ditekan ke dalam vagina Chinta dan tidak berapa lama Chinta tampak meringis kesakitan, tetapi tidak mampu bersuara karena mulutnya tersumbat penis Iwan yang dengan kasarnya menembus hingga tenggorokannya. Tejo memaju-mundurkan penisnya ke dalam vagina Chinta dan nampak darah mulai menetes dari vagina Chinta.

Keperawanan Chinta telah dikoyak Tejo. Iwan yang tidak puas akan “pelayanan” Chinta nampak kesal. “Ayo isep atau gue cekik lo..!

” bentaknya ke arah Chinta yang sudah dingin pandangannya. Chinta yang sudah putus asa hanya dapat menuruti keinginan Iwan. Mulutnya dimaju-mundurkan sambil menghisap penis Iwan.

“Ayo cepat..!” kata Iwan lagi.

Karena dalam posisinya yang telentang, agak sulit bagi Chinta menaik-turunkan kepalanya untuk mengulum penis Iwan, tetapi Iwan rupanya tidak mau perduli. Chinta melingkarkan tangannya ke pinggang Iwan, sehingga dia dapat sedikit mempercepat gerakannya sesuai keinginan Iwan. Hampir 30 menit berlalu, Iwan hampir ejakulasi, rambut Chinta ditarik ke bawah sehingga wajahnya menengadah ke atas. Iwan mencabut penisnya dari mulut Chinta.

“Buka yang lebar dan keluarin lidah lo..!” bentaknya lagi.

Chinta membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidahnya keluar. Iwan memasukkan kembali setengah penisnya ke mulut Chinta dan,

“Ah.., crot… crot… crot..!” sperma Iwan yang banyak masuk ke mulut Chinta.

“Telan semuanya..!” Chinta terpaksa menelan semua sperma Iwan yang masuk ke mulutnya, walau sebagian ada yang mengalir di sela-sela bibirnya. Tejo yang juga hampir ejakulasi mencabut penisnya dari vagina Chinta dan merangkat ke atas dada Chinta dan bersamaan dengan Iwan mencabut penisnya dari mulut Chinta. Tejo memasukkan penisnya ke mulut Chinta sampai habis masuk hingga ke tenggorokan Chinta. Dan,

“Crot.. crot.. crot..!” kali ini sperma Tejo langsung masuk melewati tenggorokan Chinta. Blacan yang sedari tadi menonton perbuatan kedua rekannya melakukan hal serupa yang dilakukan Tejo, hanya saja Blacan menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Chinta. Begitulah selanjutnya, masing-masing dari mereka kembali memperkosa Chinta sehingga baik Blacan, Tejo dan Iwan dapat merasakan nikmatnya vagina Chinta dan hangatnya kuluman bibir Chinta yang melingkari penis-penis mereka.

Mereka benar-benar sudah melampaui batasan keinginan berbalas denadam terhadap Chinta yang tadinya masih polos itu. Sebelum meninggalkan Chinta sendirian di rumah kosong, mereka sempat membuat photo-photo telanjang Chinta yang dipergunakan untuk mengancam Chinta seandainya buka mulut. Photo-photo tersebut akan disebarkan ke seantero sekolah Chinta jika memang benar-benar Chinta melaporkan hal tersebut ke orang lain.

Hari-hari selanjutnya dengan berbagai ancaman, Chinta terpaksa pasrah diperkosa kembali oleh Blacan dan kawan-kawan sampai belasan kali. Dan setiap kali diperkosa, jumlahnya selalu bertambah, hingga terakhir Chinta diperkosa 40 orang, dan dipaksa menelan sperma setiap pemerkosanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 95 pengikut lainnya

Selamat datang di ceritaporno17tahun.wordpress.com...
Situs yang jelas - jelas mengandung pornografi untuk anak di bawah umur 17+. Situs ini berisi cerita - cerita porno dari ribuan penulis berkualitas yang diposting secara profesional.

Blog Stats

  • 5,389,447 hits

Recent 100

Top Clicks

  • Tak ada
%d blogger menyukai ini: